Langit sore yang perlahan memerah mengiringi kerumunan penduduk Sinto di sebuah bangunan besar. Bangunan itu, tempat berkumpulnya tetua, kepala suku, dan para penduduk, kini dipenuhi oleh rasa penasaran yang memuncak. Para penduduk yang telah diarahkan untuk kembali menjalani aktivitas normal tampak berkumpul, penasaran oleh berita yang dibawa Lynx, terutama karena melihat dua orang asing yang datang bersamanya.

"Lynx, apa yang terjadi sebenarnya? Apa kamu tahu siapa mereka?" Tanya Maret mewakili para penduduk yang berada di tempat itu.

"Apakah mereka utusan dewa? Senjata mereka sangat menakutkan." Kata salah satu tetua dengan nada cemas.

"Betul, aku belum pernah mendengar ada senjata seperti itu. Kecil sebesar buah tapi begitu di lemparkan bisa meledak dan membunuh banyak saudara-saudara kita. Apakah itu sihir?" gumam salah satu penduduk yang teringat kejadian bom fragment yang meledak di tengah pertempuran.

"Jika mereka utusan dewa, bukankah kita akan dimusnahkan setelah mereka tahu utusannya terkubur di gua itu?" suara lain menimpali, penuh kecemasan.

Lynx mengangkat tangan, berusaha menenangkan keributan. "Semuanya! Harap tenang!" suaranya menggema, membuat semua orang diam dan menatapnya.

Mendengar Lynx, sosok yang mereka hormati mulai berbicara, seluruh penduduk Sinto diam dan menunggu.

Ketika suasana kembali hening, Lynx berbicara dengan nada mantap,"Kalian pasti sudah mengetahui mengenai sejarah terbentuknya pulau ini." Lynx memulai ceritanya.

"Pulau ini terbentuk dari gabungan beberapa wilayah dari dimensi lain. Dan prajurit yang menyerang kita, bukan berasal dari dunia ini. Mereka datang dari dimensi lain." Kata Lynx.

Bisik-bisik mulai terdengar di antara kerumunan. Beberapa orang terlihat kaget, sementara yang lain tampak bingung.

"Jadi cerita tentang dimensi lain itu benar?" tanya seorang penduduk dengan nada penuh keraguan.

"Tentu saja benar. Bukankah pasukan Monrest mengadakan ritual pemanggilan juga untuk memanggil orang-orang dari dimensi lain untuk datang kesini." Jawab salah satu penduduk yang memahami peristiwa yang terjadi di pulau itu.

Berbeda dengan para penduduk yang kaget, para tetua dan kepala suku terlihat lebih tenang. "Kami para tetua beserta kepala suku, sempat membahas mengenai hal ini. Kami bisa menduga mereka berbeda dengan kita dan tidak berasal dari tempat ini. Pakaian mereka berbeda dengan kita. Tapi senjata yang mereka gunakan, sungguh luar biasa. Kami tidak bisa membayangkan jika harus bertarung melawan mereka. Senjata mereka jauh lebih kuat dari suku Monrest." Kata salah satu tetua.

Lynx menganggukkan kepala dan menjelaskan. "Senjata mereka sebenarnya bukanlah sihir atau kekuatan dewa, tapi di namakan sebagai teknologi. Dunia mereka sudah berkembang pesat. Orang-orang di dunia mereka sudah mengembangkan senjata dari berbagai material yang ada di dunia dan menciptakan senjata tersebut. Dan di dunia mereka, senjata ini sering di temukan dan digunakan dalam pertarungan."

Karim, yang berdiri di barisan depan, menyela, "Tapi kenapa mereka harus bertarung dengan senjata seperti itu? Apakah perang di dunia mereka begitu kejam?"

Lynx menarik napas dalam-dalam. "Bukan hanya perang, tetapi persaingan untuk kekuasaan."

"Persaingan kekuasaan?" Maret mengernyit. "Apa hubungannya dengan ini semua?"

Lynx memandang ke arah Lala dan Mochi, yang duduk tidak jauh darinya. "Lebih baik mereka yang menjelaskannya."

"Lalu apa tujuan mereka datang ke tempat ini?" Tanya Maret dengan rasa penasaran.

"Mengenai hal ini, aku rasa lebih tepat jika Lala dan kakeknya yang menceritakan." Kata Lynx sambil menunjuk seorang wanita yang duduk tidak jauh darinya.

Semua mata tertuju pada Lala, yang perlahan berdiri. Dia menatap kakeknya sejenak untuk meminta persetujuan. Setelah Mochi mengangguk, dia menghela napas dalam-dalam.

Lala memandang kakeknya sekilas meminta persetujuan dan berdiri setelah kakeknya menganggukkan kepala. "Sebelumnya, kami ingin memperkenalkan diri kembali. Namaku Lala dan ini kakekku bernama kakek Mochi."

Lala memandangi Lynx dan penduduk di sekitarnya sebelum melanjutkan."Seperti yang di katakan Lynx, kami datang dari dunia lain, bisa di sebut dimensi lain."

Lala menghela napas sejenak sebelum melanjutkan. " Sekitar delapan tahun yang lalu, ayahku, seorang ilmuwan menciptakan sebuah alat yang dapat membuatnya datang ke tempat ini. Dengan alat itu, ayahku melarikan diri dari kejaran orang jahat yang ingin memanfaatkan alat ciptaan ayahku untuk menguasai dunia di tempat kami. Namun sejak ayahku pindah ke dunia ini, kami tidak pernah mendengar beritanya lagi. Ayah menghilang tanpa jejak." Kata Lala. Tanpa di sadari, air matanya keluar dan mengalir di pipinya.

"Ada ditempat ini? "

"Delapan tahun lalu?"

"Siapa dia?"

Terdengar bisik-bisik dari kerumunan penduduk Sinto yang mendengarkan cerita. Sementara Drona terbayang seseorang yang pernah datang menemuinya.

Mochi segera berdiri dan melanjutkan ceritanya sambil mengelus punggung Lala."Cucuku, berusaha menemukan ayahnya dengan melanjutkan penelitian dari catatan yang ditemukannya. Namun orang yang menjadi penyebab ayahnya melarikan diri, mengetahui rencana Lala dan menipu Lala dengan berpura-pura membantunya."

Mochi berhenti sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. "Setelah Lala mengetahui tujuan mereka, Lala mengentikan penelitiannya. Namun mereka dengan liciknya, menangkapku dan memaksa cucuku untuk melanjutkan penelitian menemukan ayahnya."

"Siapakah nama ayahnya Lala?" Tanya ketua suku Maret.

"Ayahku bernama Milo, dia menghilang sekitar delapan tahun yang lalu." Kata Lala berusaha menahan sedihnya.

"Milo? Bukankah dia pria yang pernah datang ke kampung kita sebelumnya? Dia memang pernah bercerita tentang putrinya." Kata salah satu tetua.

Drona tidak bisa menahan tangisnya. Dia teringat kenangan tentang pria itu. Selama ini Drona mengira Milo sudah kembali ke dunianya, tapi ternyata jasadnya ditemukan Lynx di gua, di sarang monster laba-laba.

"Milo… pria itu. Dia pernah datang padaku. Aku pikir dia sudah kembali ke dunianya. Lala, apakah kamu sudah mengetahui tentang ayahmu?" Tanya Drona perlahan, berusaha menjaga perasaan Lala.

Lala menganggukkan kepalanya. "Lynx sudah memberitahu kami mengenai ayah. Kami berharap bisa menemukan jasadnya. Tapi kami terlambat. Bukankah gua yang runtuh itu lokasi jasad ayah berada?"

Lynx yang di tatap oleh Lala, hanya menganggukkan kepala. "Maafkan aku Lala. Aku tidak menduga jika mereka akan meledakkan gua tersebut."

"Jika kembali ke duniaku nanti, aku akan membawa peralatan lebih lengkap untuk menemukan jasad ayah." Batin Lala.

Mereka semua yang ada di tempat itu terdiam, menyaksikan kesedihan yang di alami Lala, seorang anak yang datang dari jauh demi menemukan ayahnya.

"Lynx, bagaimana dengan hasil perjalananmu?" Terdengar suara kepala suku Maret memecah keheningan.

"Apakah kamu berhasil menemukan mereka?" Tanya Leena yang ikut merasa penasaran.

Lynx menganggukkan kepalanya dan menceritakan mengenai perjalanan dia. "Awalnya setelah perjalanan dari tempat ini, aku bertemu dengan suku Uksa dan menolong mereka dari serangan suku Monrest."

"Monrest?" Terdengar suara berbisik dan perbincangan para penduduk membahas tentang suku Monrest. Beberapa penduduk terlihat ketakutan, teringat kekejaman suku Monrest dan beberapa penduduk terlihat mengepalkan tangannya, dari wajahnya terlihat raut kemarahan yang mendalam.

"Bukankah suku Uksa selalu berpindah-pindah dan mahir membuat jebakan?Bagaimana kau bisa menemui mereka?" Kata salah satu penduduk.

"Kita dulu sering bertukar obat-obatan dengan hasil tangkapan mereka, sayangnya mereka suka berpindah begitu mendapat kabar tentang Monrest." Terdengar suara penduduk lainnya.

Lynx melanjutkan ceritanya. "Suku Monrest berhasil menemukan cara untuk mendapatkan lokasi suku Uksa yang berpindah-pindah dan menyerang mereka. Setelah itu, Widhi, ketua suku mereka memindahkan para sukunya ke tempat aman."

Lynx sengaja tidak menceritakan tentang pertarungan mereka karena menghindari pertanyaan mengenai keterlibatan dirinya.

"Ternyata Widhi masih hidup dan masih menjadi pemimpin mereka." Kata salah satu tetua yang berbisik-bisik dengan tetua lainnya.

"Lalu bagaimana? Apakah mereka bersedia bergabung bersama kita melawan suku Monrest?" Tanya Maret dengan tegang.

Lynx menganggukkan kepalanya. "Kebetulan, saat mereka di serang, aku sedang bersama mereka sehingga dapat membantu mereka melawan Monrest. Setelah mereka berhasil menyelamatkan penduduknya, Widhi dan para penduduk Uksa bersedia bergabung bersama kita. Dan bukan hanya suku Uksa, tetapi suku Raksa dan Yaksa juga akan bergabung bersama kita melawan suku Monrest." Kata Lynx dengan bersemangat.

"Raksa? Benarkah?" Tanya salah satu tetua.
